Sabtu, 26 Juli 2014

NEVERLAND

"Jika kamu menemukan sebuah pintu yang bisa
membawamu ke dunia game, dunia anime, dunia
khayalan atau dunia yang sesuai keinginanmu,
kemana kamu akan pergi?
Dan apa yang akan kamu lakukan di sana?"

Tring! Tring! Cling~
Suara gemerincing itu tiba-tiba membuatku
terjaga dari buaian mimpi. Mataku mengerjap-
ngerjap tak percaya, jendelaku bersinar dan
menampilkan siluet sosok mungil bersayap.
Kaget, aku melompat dan segera membuka
daun jendela itu. Nuansa kilau keemasan
segera memadati kamarku -aku terpana dan
menjerit- melihat sosok itu, "Peri insinyur!
Eh, maksudku Tinker Bell...!!!"
"Putri Cahaya, ikutlah bersamaku ke
Neverland. Saat ini AuL Howler telah membuka
pintu bintang menuju Dunia Impian. Ayo,
bergegaslah!" Sebelum sempat meresponnya,
Tinker Bell langsung memercikkan bubuk peri
(pixie dust, red) di tubuhku. Aku yakin telah
memasang tampang bingung tetapi Tinker Bell
tetap nyerocos tanpa henti bahkan menarik
telunjuk kananku, "Mana pikiran
kebahagiaanmu? Putri Cahaya, kita tak punya
banyak waktu. Ayo, terbang!"

Tinker Bell melesat cepat keluar dari
jendelaku -aku membayangkan orang-orang
yang kusayangi- lalu tubuhku melayang dan
segera menyusulnya menuju bintang kedua dari
sebelah kanan di langit malam. Kami pun
melewati pintu bintang sampai fajar
menyingsing. Aku penasaran, kenapa Tinker
Bell bisa begitu gelisah. Apa apa dengan
Neverland?
Kegelapan menyelimuti ketika kami tiba.
Padahal ini pagi hari tapi tak terlihat apapun.
Satu-satunya sinar hanya berasal dariku dan
dari peri yang kini kurasakan tubuhnya
gemetar hebat. Aku bungkam. Tiba-tiba aku
sadar, dari tadi aku tidak melihat anak laki-
laki yang seharusnya selalu bersama Tinker
Bell.
"Kemarin Peter Pan menghilang. Baik aku
maupun The Lost Boy tak ada yang tahu
dimana keberadaannya. Lalu dari tiap menit
ke menit Neverland diliputi aura suram hingga
terciptalah kegelapan seperti yang terlihat
saat ini." tutur Tinker Bell pelan-pelan.
"A-apa ini ulah Captain Hook?"
Peri berambut kuning itu menggeleng lembut,
"Aku tidak tahu. Di saat Peter menghilang,
aku hanya berpikir untuk segera menemuimu,
Putri Cahaya, tanpa mencari tahu ada apa di
balik semua ini. Aku...benar-benar takut
Neverland akan tiada."
Aku berucap menenangkan, "Walau sesuram
ini, Neverland tetap memiliki sosok zero to
hero. Tenang saja, satu-satunya yang akan
tiada adalah kegelapan ini."
Perlahan, aku mengeluarkan botol berisi
bintang kecil nan berharga yang tadi kuambil
dalam perjalanan menuju ke sini. Di tanganku
yang lain masih tersisa dua botol kosong lagi.
Tak terpikir solusi apapun selain bagaimana
mendatangkan trilyunan cahaya sehingga bisa
melenyapkan kegelapan ini. Aku melirik Tinker
Bell, "Aku butuh hujan. Dimana aku bisa
mendapatkannya?"
Tinker Bell menunjuk istana hujan yang berada
di balik awan putih yang berarak. Detik
berikutnya, Tinker Bell pun menuntunku
mencapai titik dimana aku bisa merasakan
butir hujan menyapa wajahku. Segera aku
mengumpulkan hujan di satu botol kosong tadi.

Melihat tindakanku, Tinker Bell bertanya,
"Untuk apa menemui hujan?"
Aku tersenyum manis, "Untuk mendatangkan
pelangi." Benar saja, semenit kemudian aku
melihat cahaya lengkung warna-warni itu.
Tanpa jeda berarti, segera kumasukkan
pelangi ke botol terakhir yang masih kosong.
Aku puas menatap botol-botol yang telah
terisi penuh itu. Ada pelangi, hujan dan
bintang. Sekarang sudah tersimpan sosok
penuh kebahagiaan sebagai pelita di
Neverland. Aku langsung meminta Tinker Bell
untuk memberi tahu The Lost Boy bahwa kita
akan menyelundup ke gua bajak laut milik
Captain Hook. Firasatku mengatakan ada
sesuatu yang tidak beres di sana.
Benar saja! Ketika penyelundupan kami dengan
sangat menyesal kukatakan gagal dan
akhirnya kami tertawan, di sel penjara yang
lain kami bisa melihat Peter Pan. Eh? Apa
benar dia Peter Pan? Aku ragu, dia
menerawang ke depan dengan tatapan kosong
*seakan tak punya jiwa. Tinker Bell mendekati
Peter Pan tetapi tiba-tiba dengan cepat
menjauhinya. Aku menautkan kedua alisku.
"Dia bukan Peter Pan! Katanya, dia ingin
meninggalkan Neverland karena kehilangan
alasan untuk tetap berada di sini. Yang benar
saja, dia bukan si anak abadi!" Tinker Bell
meraung putus asa.
Aku mengelus kepala Tinker Bell dan
memberikan botol pelangi padanya. Aku
berbisik, "Sosok zero to hero yang pertama,
berikanlah pada Peter Pan. Ketika pertama
kali melihat pelangi, akan terbersit pikiran
bahwa dia hanyalah fatamorgana. Namun
semakin lama melihatnya, siapapun akan
sadar, pelangi mempunyai kekuatan pemulih
impian yang sangat dahsyat. Apalagi masih
misteri *sebenarnya apa yang terdapat di
ujung pelangi...(?) Untuk itu, pelangi
senantiasa akan menuntun orang-orang yang
kehilangan jejak impian dan membawanya ke
ujung tanpa batas."
Tringgg!
Aku takjub melihat pelangi merasuk masuk dan
mengembalikan cerah impian di mata Peter
Pan. Namun, ketakjubanku berubah menjadi
ketakutan ketika Captain Hook menyerang
Peter Pan dan awak kapal tiba-tiba datang -
masuk ke dalam sel- mengacungkan pedang
pada kami. Suasana berubah menjadi kacau
dan kalang kabut.
Aku langsung membuka botol hujan, sosok zero
to hero yang kedua. Hujan, sosok yang kadang
mengisyaratkan sendu dan harapan palsu. Tak
jarang kesalahpahaman terjadi, apakah hujan
membawa berkah atau malah membawa petaka.
Padahal sebenarnya, hujan akan senantiasa
memberikan nikmat kepada penghuni bumi asal
mereka mengenal baik siapa hujan sebenarnya.
Hujan pun akan selalu berusaha menggunakan
kekuatannya untuk melindungi orang-orang
yang menyukainya.
Tringgg!
Tak bisa dipercaya. Saat ini hujan tengah
turun di dalam ruangan. Ya, di penjara bawah
kapal milik Captain Hook. Di tengah-tengah
keriuhan itu aku masih sempat tertawa
karenanya hingga Peter Pan berteriak di
hadapanku, "Segera naik ke atas kapal! Eh,
sejak kapan Putri Cahaya ada di sini?!"
Tawa gemasku terlompat keluar, "Sudah dari
tadi, loh!" Aku pun meninggalkan raut melongo
di muka Peter Pan lalu beranjak dari sana.
Ternyata di atas pun kami sudah disambut
dengan awak kapal yang siaga. Dari jauh aku
bisa mendengar Peter Pan kembali berseru,
"Tinker Bell, lindungi Putri Cahaya! Kembalikan
Putri Cahaya ke negerinya sesegera mungkin!"
Detik berikutnya Tinker Bell sudah mengitariku
dan kami pun membumbung ke langit petang.
Senyumku merekah, saat ini -perlahan tapi
pasti- langit Neverland memberikan semburat
cahaya oranye yang melenyapkan gelap di
sekitarnya.
Aku mengeluarkan botol bintang, sosok zero to
hero yang ketiga, lalu memberikannya pada
Tinker Bell. Aku mengedipkan mata, "Ini
untukmu, simpanlah. Dahulunya bintang
dianggap sebagai sosok pelampiasan amarah
dari langit. Bukan itu saja, bintang juga
mendapatkan sinyal rasa pedih dan sakit dari
sekitarnya. Namun karenanya, saat ini
kilauan bintang benar-benar hangat. Bintang
sampai kapanpun akan menjadi sahabat
terbaik bagi siapapun juga. Walau kadang tak
terlihat bahkan seakan tak peduli, bintang
akan selalu ada bagi jiwa yang
membutuhkannya."
Tringgg!
Walau sekarang matahari telah kembali ke
peraduannya, kini Neverland benar-benar
telah kembali bermandikan cahaya. Aku sadar,
kegelapan itu muncul karena hilangnya rasa
percaya pada impian yang bisa tergapai.
Bahkan Peter Pan si anak abadi pun kehilangan
impiannya berada di dunia impian. Ironis,
ketika diri sendiri saja tidak percaya
bagaimana mungkin orang lain akan percaya
bahwa kita mampu meraihnya? Dan tidak perlu
menengok terlalu jauh, setiap solusi sudah
diberikan oleh Sang Pemilik Masalah yang
tersimpan rapi di setiap lubuk hati.
Aku meringis pelan, "Aku butuh hujan..."
"Apa untuk melihat pelangi lagi?" tanya Tinker
Bell memastikan.
Aku menggeleng, "Bukan. Kali ini aku
membutuhkannya untuk menyembunyikan rona
merah di wajahku..." Kata-kataku terputus -
tercekat di tenggorokan- aku tak bisa
meneruskannya. Tiba-tiba *Pats! aku jatuh,
menukik turun ke bawah. Aku kehilangan
kendali. Namun, masih bisa kudengar teriakan
Tinker Bell tentang pikiran kebahagiaanku
yang hilang, masih bisa kurasakan
kecemasannya yang tak bisa mengangkat naik
tubuhku yang lebih besar darinya. Hujan,
datanglah. Aku mohon sembunyikanlah tangis
yang tak bisa kubendung lagi.
Byuurrrrr!
Aku terjatuh di lautan dan menimbulkan riak
bak ombak kecil. Tinker Bell membantuku
menepi, wajahnya benar-benar khawatir. Aku
tersenyum lemah dan menunjuk pantulan bulan
yang berada di tengah lautan.
Aku berkata, "Ketika melihat bulan di atas
lautan, aku begitu terpesona dengan
pantulannya. Aku tak mau mengakuinya tapi
dari lubuk hatiku yang terdalam -aku tahu-
akan lebih baik jika bulan ada dua. Tak apa
walau dia tidak asli, tak apa walau dia tidak
nyata. Aku... ingin mencoba menangkap bulan
yang tidak bisa diraih oleh tangan. Apa boleh
aku tinggal di sini saja?"
"Hah? Tidak boleh! Putri Cahaya harus pulang
ke negerinya sendiri." Aku tertawa lebar
mendengar respon Tinker Bell yang begitu
cepat menolakku.
"Maaf kalau aku menangis. Aku... ingin
meninggalkan sesuatu... yang bisa menetap di
hati orang-orang. Tidak perlu sesuatu yang
terlalu besar. Tidak perlu sesuatu yang dapat
mereka genggam. Untuk sekejap, aku ingin
dapat menyentuh hati mereka."
Tinker Bell mengepak-ngepakkan sayapnya,
bingung. Aku pun terbang dan dengan gemas
memeluknya erat, "Ayo, antarkan aku pulang.
AuL Howler pasti sudah membuka pintu bintang
untuk kepulanganku."
You know the place between sleep and
awake?
The place where you can still remember
dreaming?
That's where I'll always love you. That's
where I'll be waiting.
___ Tinker Bell ___

Tidak ada komentar:

Posting Komentar